BIOGRAFI

BIOGRAFI
Sejarah dan Profil Keseharian

KOLEKSI BUKU

KOLEKSI BUKU
Buku-buku yang pernah dirilis

TIPS BERMANFAAT

TIPS BERMANFAAT
Kumpulan Tips-tips Bermanfaat

TANYA JAWAB

TANYA JAWAB
Konsultasi bersama dokter Hanny

Animasi Slider

Pegal Leher Pertanda Tuhan Murka

17 June 2011


Bang, pegel leher tu pertanda Tuhan lagi murka ma kite bang!
Gimana ceritanye bisa begitu?
Tuhan kan lebih deket dari urat leher

Trus gimana ceritanye ma pemabok?
Tuhan tetap murka lah bang ma orang kayak gitu

Lah tu orang kan jarang pegel leher tapi sering pusing kepala?!
Kepala ma leher tu kan masih deketan bang!

Darimane lu yakin lu sendiri punya urat leher?
Waktu abang nyuruh ane ngangkat ember gede, keliatan kan urat leher ane?

Tuhan nyebut2 "urat leher" itu biar lu paham gimana cara ketemu Dia
Pake kaca?

Tuhan tu sangat dekat tapi kagak bisa dilihat langsung ma mata kite
Ane ngarti! seperti ane kagak bisa ngeliat leher ane sendiri ya bang?

Nah entu dia!
Trus Tuhan ngapain deket-deket gitu bang?

Gua ada di depan muka lu, tapi lu nyuruh orang minta rokok gua
Wah bego itumah bang! haha

Bener! Tuhan itu sangat dekat, jadi ngapain pake perantara
Nah klo ane mau minta sesuatu, trus gimana cara ngomongnya bang?

Ape lu pake pengeras suara klo ngomong ma gua?
Ya ntar klo abang dah bolot

Tuhan dah ngarti sekalipun tidak keluar dari mulut kite
Jadi Tuhan bisa baca hati kita ya bang

Bener! niat buruk atau baik, Tuhan dah tau lah
Klo begitu Tuhan tau niat ane sekarang mau ngutang ke abang ya?
Ya iya lah, Tuhan juga tau niat gua kagak ngasih pinjaman ama lu pade !!!

Mbok Saina Jadi Pahlawan di Israel

10 March 2011


Yad Vashem adalah sebuah kawasan monumental di Israel yang di dalamnya tidak hanya sebagai monumen peringatan para korban Holocaust Nazi tetapi diabadikan pula orang-orang yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk menolong warga-warga Yahudi dari kekejaman Nazi.

Dari luas areal 45 hektar, ada sebuah kebun yang khusus diperuntukkan bagi kalangan non Yahudi yang telah berjasa besar dalam menyelamatkan orang-orang Yahudi dari Holocaust. Kawasan ini dikenal sebagai kebun Righteous Among the Nations.


Orang Jawa Pahlawan di Yad Vashem

Pada artikel sebelumnya sempat disinggung tentang hadirnya sosok muslim yang diabadikan di kebun ini. Kali ini kejutan lain datang dari sebuah catatan kecil pada publikasi statistik situs resmi Yad Vashem. Secara sekilas, nama Indonesia tidak masuk dalam jajaran Righteous Among the Nations - per Country and Ethnic Origin. Namun pada sebuah catatan kecilnya disinggung keterangan:

Includes two persons originally from Indonesia, but residing in the Netherlands.

Jadi memang ada dua warga Indonesia yang tercatat Yad Vashem, namun karena ia lama berdomisili di Belanda, maka keduanya dimasukkan ke dalam kelompok Belanda. Dua orang warga Indonesia kelahiran Jawa tersebut adalah Tolé Madna dan Mima Saïna. Keduanya dianggap telah berani mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Alfred Münzer (anak bungsu dari keluarga Yahudi yang saat itu masih balita) dari Holocaust Nazi.



Tole Madna Mima Saina

Berdasarkan publikasi Yad Vashem dan Congressional Record, April 9, 2002 Senat Amerika, keduanya resmi masuk dalam jajaran Righteous Among the Nations pada tahun 2003 atas rekomendasi dari Congregation Adas Israel di Washington D.C. dan Senator California, Henry A. Waxman.

Sedikit informasi yang menguraikan biodata lengkap dari keduanya, Congressional Record hanya menyebutkan Tole Madna di akhir hidupnya memeluk agama Katolik, sedangkan Mima Saina adalah pembantu rumah Tole Madna, ia seorang muslim.


Perjalanan Menuju Kamp Konsentrasi

Kisahnya dimulai dengan pasangan Simcha (Siegfried) Münzer dan Gitel (Gisele), keduanya masih punya hubungan dekat sebagai sepupu, mereka bertemu saat keduanya masih berada di Polandia. Simcha berasal dari kota Kańczuga sedangkan Gitel berasal dari Rymanów, kedua kota berada di propinsi Podkarpackie, Polandia selatan.

Keduanya meninggalkan Polandia saat berumur 18 tahun, Simcha menuju Hague, Belanda, dan di sana ia membuka butik pakaian pria. Sedangkan Gitel tinggal di rumah kakaknya di Berlin sebelum akhirnya menuju Hague di awal Desember 1932, dan menikah dengan Simcha pada 16 Desember 1932.

Pernikahan Simcha dan Gitel Münzer di Hague, 1932

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak perempuan bernama Eva yang lahir tahun 1936 dan Leana yang lahir tahun 1938. Sedangkan anak ketiga adalah seorang anak laki-laki lahir pada 23 Nopember 1941 di Hague diberi nama Alfred Münzer.

Saat anak ketiga dilahirkan, Belanda saat itu dalam posisi sudah diinvasi oleh Jerman. Sebelumnya, Belanda menyatakan netral pada Perang Dunia I dan pada awal meletusnya Perang Dunia II tahun 1939, Belanda sekali lagi menyatakan diri sebagai negara netral, sekalipun begitu, tanggal 10 Mei 1940, Jerman menginvasi Belanda karena Jerman hendak mengantisipasi masuknya pasukan Inggris melalui laut dan Perancis melalui Ardennes.

Pada 21 Mei 1942, keluarga Münzer diwajibkan melapor ke kamp buruh kerja Jerman, namun Simcha mengelak dengan cara berpura-pura dirawat di Rumah Sakit untuk operasi Hernia.

Memasuki September 1942 situasi semakin tidak jelas bagi keluarga Münzer sehingga memaksanya untuk segera menyembunyikan diri. Sekali lagi Simcha terus berusaha menghindar dan kali ini ia berpura-pura terlihat seperti hendak melakukan usaha bunuh diri agar bisa masuk ke Remarkkliniek, sebuah Rumah Sakit Jiwa di dekat kota Hague.

Sementara Simcha berada di Rumah Sakit, Gitel menjual semua isi rumahnya dan bersiap untuk membawa pergi anak-anaknya. Dua anak perempuannya dititipkan ke seorang temannya yang juga tetangganya yang beragama Katolik yang siap membantu menyembunyikan mereka. Sedangkan si bungsu, Alfred, dititipkan ke seorang tetangga lainnya yang bernama Annie Madna.

Gitel kemudian meninggalkan rumahnya untuk terakhir kalinya di bulan Oktober 1942 untuk bergabung bersama suaminya di Remarkkliniek dengan berpura-pura sebagai perawat yang merawat Simcha.

Pada 26 Desember 1942, Remarkkliniek diserbu pasukan SS Nazi dan semua pegawai dan pasien Rumah Sakit tersebut dibawa oleh SS. Simcha dan Gitel untuk sementara waktu ditempatkan di sebuah penjara transit yang dibangun pada abad ke-17 yang juga satu kota dengan filsuf Yahudi terkenal, Benedict Spinoza.

Pada 3 Januari 1943, keduanya digiring ke kamp Westerbork (Durchgangslager Westerbork), sebuah kamp transit bagi bagi Yahudi Belanda, Belgia, dan Italia yang hendak ditransfer ke kamp Nazi lainnya. Kamp ini berada di Hooghalen, 10 km utara kota Westerbork, timur laut Belanda.

Dari kamp tersebut, keduanya kemudian ditransfer ke kamp Vught (Konzentrationslager Herzogenbusch), Belanda selatan, untuk dipekerjakan di perusahaan tabung radio Phillips, dan tinggal di sana hingga Maret 1944 ketika hampir semua kamp konsentrasi di Belanda sudah dikosongkan.

Kamp Westerbork dan Vught merupakan kamp transit yang digunakan untuk mempersiapkan pengiriman Yahudi Belanda dan Belgia untuk disebarkan ke kamp konsentrasi di Polandia yang selanjutnya dimusnahkan di sana. Pasca Perang Dunia II, kamp ini menjadi penjara bagi penjahat perang Jerman dan simpatisannya, kemudian menjadi penjara dengan keamanan tingkat tinggi pemerintah Belanda, Extra Beveiligde Inrichting (EBI).

Lokasi ini pun dijadikan tempat domisili oleh sebagian besar pendatang Indonesia dari Maluku. Corrie dan Betsie ten Boom, anggota gerakan perlawanan Belanda, sempat ditahan di kamp ini pada tahun 1944 sebelum dikirim ke kamp Ravensbrück. Johan Cornelis Princen "Haji Princen", saat masih sebagai tentara Belanda, sempat ditahan di kamp ini, tahun 1948 ia kemudian membelot dengan membela TNI melawan Belanda, dan di akhir hidupnya ia menjadi muslim dan rajin memperjuangkan hak asasi di Indonesia.

Dari Vught, mereka dipulangkan kembali ke kamp Westerbork untuk dikumpulkan bersama-sama konvoi menuju kamp Auschwitz (Konzentrationslager Auschwitz). Setibanya di Auschwitz, Simcha dan Gitel berpisah. Simcha tetap tinggal di sana hingga dievakuasi bulan Januari 1945 ia dibawa ke Mauthausen dan dari sana ditransfer ke Gusen, Steyr dan terakhir ke kamp Ebensee (KZ-Gedenkstätte Ebensee) di mana ia dibebaskan. Dua bulan setelah perang berakhir, Simcha meninggal saat sedang menjalani perawatan di dekat sebuah biara, dan jasadnya dikuburkan di areal pemakaman di kamp Ebensee.

Nazi membangun kamp Ebensee untuk mempekerjakan tawanan Yahudi guna membangun terowongan bawah tanah yang akan difungsikan untuk mengevakuasi senjata misil V-2 dan Wasserfall Ferngelenkte Flakrakete, hasil pabrikasi Peenemünde. Hitler di kemudian hari mengkonversinya menjadi sebuah pabrik kendaraan tempur lapis baja sejak 6 Juli 1944.

Para tahanan kamp Ebensee yang selamat saat dibebaskan oleh Tentara AS Divisi ke-80 Airborne pada Mei 1945.

Nasib Gitel hanya tinggal sebentar di Auschwitz, kemudian ia ditransfer ke kamp Reichenbach di Dzierżoniów, Polandia. Di sana ia dipekerjakan pada pabrik Telefunken-Phillips. Pada musim panas 1944, pabrik tersebut dibombardir dan seluruh penghuninya yang selamat dievakuasi. Gitel sendiri dipaksa berjalan kaki bersama rombongan lainnya (Death March) dikirim ke kamp buruh kerja di Zittau, Adelsheim, Binau, Bergen-Belsen, Hanover, Stendhal, Luebeck, Hamburg dan terakhir di kamp Ravensbrück (Ravensbrueck).

Kamp Ravensbrück adalah kamp konsentrasi khusus wanita berada di dekat desa Ravensbrück, 90 km dari utara Berlin. Germaine Tillion dalam bukunya, Ravensbrück, mengungkapkan bahwa selain sebagai kamp konsentrasi khusus wanita, selama Agustus 1942-Agustus 1943, Ravensbrück pun menjadi kamp percobaan medik Nazi dan kebanyakan yang menjadi korbannya adalah tahanan wanita dari Polandia yang dipanggil dengan sebutan Króliki, Kanninchen, atau Lapins yang berarti kelinci percobaan.

Percobaan ini dilakukan di klinik Hohenlychen oleh Prof. Karl Gebhardt. Umumnya wanita-wanita ini masih berusia muda bahkan anak-anak yang dipilih dari kelompok pelajar atau mahasiswa. Beberapa yang selamat dari hasil percobaan ini kemudian dieksekusi. Pasca pembebasan kamp ini, tercatat sekitar 74 wanita Polandia yang telah menjadi korban, 5 di antaranya meninggal saat sedang menjalani eksperimen, 6 wanita langsung dieksekusi masih dalam keadaan terluka sehabis eksperimen, sedangkan 63 sisanya berhasil selamat namun menderita secara permanen.

Gitel dibebaskan dari kamp Ravensbrück setelah Count Folke Bernadotte dari Palang Merah Swedia membuat kesepakatan dengan Heinrich Himmler. Gitel yang ikut diboyong ke Swedia, kemudian dirawat oleh keluarga Zohnmen di Göteborg (Gothenburg), Swedia. Bulan Agustus 1945, Gitel kemudian pulang ke Belanda, dan ia akhirnya mengetahui hanya Alfred Münzer yang masih selamat, sedangkan kedua putrinya, Eva dan Leana meninggal.

Berdasarkan keterangan dari Stiftung Brandenburgische Gedenkstätten, sekitar 7.500 tahanan wanita di kamp ini diboyong ke Swiss dan Swedia oleh Palang Merah Swiss dan Swedia. Sedangkan sisanya yang masih tertinggal sekitar 10.000 wanita dibebaskan oleh Tentara Merah Rusia yang menguasai tempat ini pada 30 April 1945. 3.000 wanita di antaranya diketahui dalam keadaan sakit.

Diketahui kemudian setelah mengetahui Simcha dan Gitel dideportasi ke kamp konsentrasi, keluarga yang menerima titipan kedua putrinya tersebut menjadi berselisih, akhirnya sang suami melaporkan istrinya sendiri berikut kedua putri Gitel ke SS. Ketiganya kemudian ditangkap dan dideportasi ke kamp Westerbork. Pada tanggal 8 Pebruari 1944, ketiganya terpisah, kedua putri Gitel ditransfer ke kamp Auschwitz dan meninggal di sana tiga hari kemudian.

Foto tahun 1942 di kediaman Münzer di Hague. Eva (kiri), Alfred (tengah) dan Leana (kanan). Eva dan Leana meninggal di kamp Auschwitz.

Tidak diketahui secara pasti penyebab kematian kedua putrinya di Auschwitz. Biasanya anak-anak dipisahkan sementara dan dikumpulkan di sebuah bangunan khusus, bila keadaan mereka memburuk akan langsung ditembak mati. Sebagian lain ada yang langsung digiring untuk dieksekusi di kamar gas dengan Zyklon-B.


Kisah Penyelamatan Alfred

Sebulan setelah si bungsu, Alfred, dititipkan Gitel kepada Annie Madna, ia kemudian dipindahkan ke adik perempuan Annie karena saat itu seorang Belanda simpatisan Nazi tinggal di sebelah rumahnya. Kemudian Annie menghubungi mantan suaminya imigran dari Indonesia bernama Tole Madna yang kebetulan bersahabat pula dengan Simcha Münzer.

Di sanalah akhirnya Alfred dirawat oleh Tole Madna hingga Perang Dunia II berakhir. Gestapo pernah menginspeksi rumah Tole Madna, namun mereka menyangka kalau Alfred adalah anak kaukasia keturunan Indonesia sehingga Alfred tidak pernah diambil oleh Gestapo.

Tole Madna dan Alfred Münzer pasca Perang Dunia II, 1946-1947, di Hague

Selama di rumah Tole Madna, Alfred selalu diasuh oleh seorang pembantu yang juga imigran dari Indonesia bernama Mima Saina, yang menurut penuturan Alfred, ia diasuh oleh Saina dengan penuh kasih sayang layak ibunya sendiri.

Mima Saina menggendong Alfred Münzer, di kediaman Tole Madna di Hague tahun 1942-1943

Selama ini Alfred hanya mengenal Mima Saïna sebagai sosok ibunya, dan Gitel memaklumi hal itu setelah lama berpisah dengan Alfred. Keluarga Mandal meminta Gitel untuk sementara tinggal bersama mereka supaya Alfred bisa beradaptasi dengan Gitel. Beberapa kemudian Mima Saina secara mendadak meninggal karena perdaharan di otak, tak lama setelah itu, Gitel akhirnya memutuskan untuk pindah bersama Alfred ke rumah mereka sendiri.

Alfred dalam wawancara bersama USHMM, mengungkapkan perasaan kehilangannya yang amat besar atas meninggalnya Mima Saina:

"Saat itu saya menangis karena tidak senang telah dibangunkan dari tidur, hingga saya berpindah-pindah pangkuan dari satu orang ke orang lain. Saya masih mengingat dengan jelas ketika saya menolak untuk duduk dipangkuan seorang wanita asing, yang tentunya itu adalah ibu kandung saya. Butuh waktu lama bagi saya untuk bisa terbiasa dengan ibunya..."

13 tahun kemudian, Gitel dan Alfred tinggal bersama di Belanda dan Belgia. Di sana Gitel mengirimkan Alfred ke sekolah agama (Yeshiva) di Aix-les-Bains, Perancis.
Saat Alfred berusia 6 tahun, Gitel membuka usaha kosmetik di Belanda, yang kemudian pada tahun 1952, mereka pindah ke Belgia. Gitel sempat dinikahi oleh pria Yahudi dari Brussel, Belgia, yang lebih tua darinya namun tidak bertahan lama.

Sejak itu Gitel dan Alfred berimigrasi ke Amerika Serikat mulai tahun 1958. Di sana Alfred mendalami ilmu kedokteran, dan akhirnya menjadi dokter spesialis Pulmonologis di Washington Adventist Hospital, Takoma Park, Washington D.C.

dr. Alfred Münzer

Alfred Münzer menceritakan, sejak ibunya menyadari akan dideportasi, maka ibunya selalu membawa dua foto kenangan saat Alfred disunat. Foto itu berukuran sangat kecil, 1x1½ inci. Foto-foto itu selalu dibawa Gitel selama berada dan berpindah-pindah antar kamp konsentrasi. Gitel mengakalinya dengan menyimpannya di rambutnya, dan hingga Gitel bebas dan bertemu dengan Alfred, foto-foto itu masih ada.

Kesaksian Alfred Münzer ini dapat disimak secara multimedia di situs United States Holocaust Memorial Museum (USHMM) yang bertajuk Stories of the Hidden.

Mima Saina dan Tole Madna (sedang memangku Alfred Münzer), 1942-1943

Mima Saina memangku Alfred Münzer, Willie Madna, Dewie Madna dan Tole Madna, 18 April 1944


Penghargaan Untuk Tole Madna dan Mima Saina

Sekalipun Gitel dan Alfred menetap lama di Amerika Serikat, namun Alfred tetap menjalin hubungan dengan keluarga Madna di Belanda, khususnya Robby Madna. Atas inisiatif Alfred, Yad Vashem akhirnya mengabadikan Tole Madna dan Mima Saina pada tahun 2003. Hanya saja keduanya dimasukkan ke dalam kelompok negara Belanda, dengan alasan bahwa mereka berdua lama tinggal di Belanda sekalipun keduanya asli Indonesia.

Robby Madna berada di belakang mengasuh Alfred Münzer yang sedang naik sepeda.

Tahun 2002, Robby Madna, anak laki-laki Tole Madna, diundang untuk menerima penghargaan dari Adas Israel di Washington D.C. yang akan mengabadikan nama ayahnya dan Mima Saina pada plakat di Garden of the Righteous, sebuah kebun di dekat Synagogue Washington D.C. Setahun sesudahnya, Rob Madna kemudian meninggal dunia.

Penghargaan Garden of the Righteous ini diinisiasi pertama kalinya oleh Rabbi Jeffrey A. Wohlberg di Washington D.C. pada tahun 1992 untuk mengenang jasa-jasa kalangan non-Yahudi yang telah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Yahudi dari holocaust.

Robby Madna mewakili almarhum ayahnya menerima penghargaan dari Adas Israel, 2002.

Robby Madna punya nama lengkap Tole Johannes Hendricus "Rob" Madna (1931-2003). Ia adalah seorang pianis Modern Jazz. Aktif bermusisi di Belanda dan hingga akhir hayatnya ia sudah merilis 4 album, Broadcast Business 76 Feat. F.Povel, En blanc et noir #6, Live at Café Hopper, dan Rob Madna Box. Di tahun terakhirnya, 2003, Rob Madna memperoleh Bird Award for Lifetime Achievement dalam North Sea Jazz Festival.

Robby Madna (1931-2003)



Sumber Data dan Foto:

Muslim Yang Jadi Pahlawan Holocaust di Israel

07 March 2011


Kasih sayang itu adalah sifat tertinggi dari Tuhan, oleh karena itu kasih sayang bersifat universal, ia mampu melintasi perbedaan suku, ras, agama, bahkan perbedaan mahluk. Sedangkan kearifan (wisdom) menempatkan kasih sayang pada tatanan kebaikan, sehingga dengan kearifanlah sebuah kasih sayang menjadi lebih bernilai dan lebih indah.


Kemampuan untuk menembus hampir semua batas inilah yang kemudian dapat menjelaskan bagaimana seseorang bisa memberikan pertolongan dan solidaritasnya kepada orang lain sekalipun ia berada pada tatanan perbedaan yang fundamental, yaitu perbedaan keyakinan dalam beragama. Berikut ini adalah sepenggal catatan sejarah bagaimana rasa kemanusiaan yang didasari oleh kearifan yang penuh dengan kasih sayang bisa melewati jurang pemisah antara muslim dan yahudi.


YAD VASHEM - Ungkapan Terima Kasih Dari Yahudi

Di kaki gunung Theodore Herzl (Zion), Israel, terdapat sebuah kompleks yang berisikan museum kenangan para korban Holocaust dengan luas 45 hektar, tempat itu dinamakan Yad Vashem. Hal yang mengejutkan dari tempat itu bukanlah dari jumlah korban yang super banyak, melainkan adanya kehadiran sebuah kompleks makam Katolik.

Makam-makam tersebut dikenal sebagai area penghormatan Yahudi bagi non Yahudi yang telah mengabaikan resiko nyawa diri mereka sendiri dalam usaha untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi dari kematian (Holocaust). Kawasan ini dikenal sebagai kawasan Righteous Among the Nations atau Righteous Gentiles.



Muslim Yang Diabadikan di Yad Vashem

Hingga rilis per 1 Januari 2008 di Yad Vashem telah mengabadikan dan memberikan penghargaan kepada 22.216 non Yahudi dari berbagai negara yang telah berjasa menyelamatkan Yahudi dari Holocaust. Di antara puluhan ribu pahlawan tersebut, mungkin yang paling mengejutkan adalah terukirnya beberapa nama muslim di Yad Vashem sebagai penghormatan atas aksi kemanusiaannya menyelamatkan Yahudi dari Holocaust, dan ini mungkin akan terus bertambah ke depannya.

Situs resmi Yad Vashem (www.yadvashem.org) bahkan dengan gamblang menampilkan sajian khusus yang mengulas sosok-sosok muslim yang telah berjasa dalam kemanusiaan. Mereka menyebutnya dengan:

Muslim Rescuers - Muslims who reached out to save despite the difference of faith

Menurut rilis The Jerusalem Post edisi 29 Oktober 2007 yang bertajuk Yad Vashem to showcase Muslims who saved Jews from Nazis, mengungkapkan bahwa sekitar 70 muslim telah dinominasikan di Yad Vashem dan 63 di antaranya berasal dari muslim Albania. Baru sekitar Oktober 2007, Yad Vashem menggelar sebuah eksebisi khusus bertema "BESA: A Code of Honor - Muslim Albanians Who Rescued Jews During the Holocaust" yang mengetengahkan para muslim yang pernah menyelamatkan Yahudi dari Holocaust.


Sekitar 7 orang sisanya berasal dari negara-negara arab seperti Turki, Iran, dan Afrika Utara. Berdasarkan sumber dari wikipedia.org, dari ketujuh orang tersebut, 6 di antaranya adalah pria dengan 4 orang berasal dari Turki yaitu Behic Erkin, Necdet Kent, Selahattin Ulkumen, dan Namik Kemal Yoga, sisanya adalah Khalid Abdul-Wahab (Tunisia) dan Abdul Hussein Sardari (Iran). Sedangkan seorang lagi adalah muslimah dari Ukraina, Saide Arifova.

Bahkan menurut BBC News yang dirilis 31 Januari 2007 dalam artikelnya, Israel Check WWII Arab Saviour, menyinggung pula bahwa para akademisi di Maroko sepakat mengatakan bahwa Raja Maroko saat itu, Muhammad V, punya andil dalam penyelamatan Yahudi di Maroko sekalipun situasinya saat itu tidak sesulit di Tunisia.

Menurut versi The International Raoul Wallenberg Foundation (raoulwallenberg.net) dalam artikelnya, Turks saved Jews from Nazi Holocaust, tercatat sedikitnya 18 diplomat Turki telah melakukan upaya penyelamatan Yahudi selama Perang Dunia II.

Mungkin terlalu banyak untuk diuraikan satu per satu, dalam artikel yang terpisah dipilih sosok muslim tertentu saja yang akan diuraikan secara panjang lebar kisah heroiknya dalam penyelematan warga Yahudi dari ancaman Holocaust Nazi Jerman, di antaranya:

NECDET KENT - Muslim Turki Penyelamat Yahudi Marseilles

Ismail Necdet Kent (1911-2002) adalah seorang Konsul Jenderal Turki untuk Perancis di Marseilles antara tahun 1941-1944, ia dikenal sebagai Diplomat Turki paling pemberani menghadapi petinggi Nazi. Etgar Lefkovits dalam artikelnya, The Consul Who Halted the Death Train, edisi 21 September 2000, mengungkapkan aksi-aksi yang luar biasa beraninya dari Necdet Kent.

Sekitar tahun 1943, Necdet Kent mendapat informasi dari seorang Yahudi yang menjadi staf di konsulatnya, bahwa sekitar 80 Yahudi Turki yang tinggal di Marseilles telah dideportasi ke kamp Auschwitz dengan gerbong ternak di stasiun kereta St. Charles.

Yahudi tersebut menggambarkannya seperti mengangkut ternak, di mana mereka saling berdesakan dan tumpang tindih dalam gerbong yang punya kapasitas mengangkut sekitar 20 ternak dan 500 kg rumput.

Berdasarkan informasi tersebut, Necdet Kent dengan marah kemudian segera menemui petinggi Gestapo di stasiun kereta tersebut dan menuntut untuk membebaskan Yahudi yang merupakan warga Turki. Namun para pejabat Gestapo menolak memenuhi tuntutan tersebut.

Necdet Kent kembali ke konsulat dan memerintahkan Yahudi stafnya untuk ikut bersamanya kembali ke stasiun kereta tersebut. Tanpa diduga-duga, Necdet Kent bersama staf Yahudinya nekad memasuki gerbong dan sekalipun dihalang-halangi dan diperintahkan untuk keluar, ia berhasil masuk dalam gerbong tersebut.

Setelah kereta melaju dan tiba di stasiun berikutnya, Seorang pejabat Gestapo meminta maaf karena disangka telah membiarkannya terbawa kereta gerbong tersebut. Ia lalu diminta keluar dan menuju sebuah mobil yang telah dipersiapkan untuk mengantarnya kembali ke konsulatnya.

Necdet Kent kemudian menjelaskan bahwa masalah sebenarnya adalah Gestapo telah membawa 80 Yahudi warga Turki. Akhirnya setelah melalui diskusi sengit, 80 Yahudi Turki dilepaskan oleh Gestapo.

Terkenang akan peristiwa tersebut, Kent mengutarakan:

"Saya tidak akan melupakan pelukan dan rangkulan mereka padaku, sebuah ekspresi rasa terima kasih mereka yang terpancar dari mata mereka yang telah kami selamatkan, dan saya merasakan kedamaian yang mendalam di hati saat saya pergi tidur di pagi harinya". Ia pun menambahkan bahwa setelah Perang Dunia II berlalu, ia sering banyak mendapat korespondensi dari para penumpang tersebut.

Aksi paling berani Necdet Kent tidak hanya itu saja, apa yang dilakukan Kent sebagai wali dari negaranya, tidak berlaku bagi beberapa konsulat asing lainnya yang berkantor di Marseilles, mereka mulai meniru-niru sebagaimana penghinaan Nazi kepada Yahudi sekalipun itu adalah warga negaranya sendiri.


Melihat atmosfir seperti itu, Kent segera berinisiatif mengevaluasi dokumen-dokumen warganya untuk mensensus ulang jumlah Yahudi Turki yang berdomisili di selatan Perancis baik yang tercatat resmi di konsulat maupun yang tidak mempunyai paspor Turki yang sah.

Kemudian Kent pergi ke markas Gestapo dan memprotes aksi-aksi mereka yang tidak manusiawi di Marseilles seperti menyisir setiap pejalan kaki yang kemudian memberikan coretan tanda khusus bagi mereka untuk membedakan mana yang Yahudi mana yang bukan. Kent mengkritik dengan ketus seorang komandan Jerman bahwa perlakuan tersebut tidak proporsional untuk membuktikan keyahudian seseorang.

Satu passport Turki bisa menyelamatkan hingga 8 nyawa selama 1933-1945

Kent mengungkapkan:

"Ketika saya melihat kekosongan di matanya, saya mulai menyadari bahwa ia sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang saya katakan. Dan saya katakan padanya bahwa saya siap untuk diperiksa oleh staf medik mereka".

Pasca Perang Dunia II, Necdet Kent masih bertugas sebagai konsulat Turki di New York, dan sebagai Duta Besar Turki untuk Thailand, India, Swedia, dan Polandia. Tahun 2001, ia mendapat anugerah dari pemerintah Turki berupa Turkey’s Supreme Service Medal dan di tahun yang sama pula ia resmi diabadikan di Yad Vashem.

Pada tanggal 1 November 2005, Baruch Tenembaum, pendiri The International Raoul Wallenberg Foundation, menganugerahi Necdet Kent dengan Raoul Wallenberg Medal. Muhtar Kent, Presiden Coca-Cola untuk wilayah Asia dan Timur Tengah yang sekaligus mewakili ayahnya dalam menerima penghargaan tersebut, mengisahkan ketika suatu hari dirinya bertanya kepada ayahnya tentang aksi beraninya, Necdet Kent kemudian menjawab, "Saya melakukannya karena saya tahu apa yang saya lakukan itu adalah benar".

İsmail Necdet Kent (1911 – 20 September 2002)



ARTIKEL TERKAIT:

NAMIK KEMAL YOLGA - Muslim Turki Penyelamat Yahudi Paris

Namik Kemal Yolga (1914-2001) adalah seorang konsulat penasehat di kedutaan Turki di Paris selama Perang Dunia II sejak tahun 1940 berjarak dua bulan sebelum Jerman menginvasi Perancis. Yolga seringkali disebut sebagai Schindler-nya Turki (Turkish Schindler) karena pola penyelamatannya mirip dengan Oskar Schindler.

Saat itu di Drancy, sebuah area di Paris utara, terdapat sebuah bekas barak kepolisian Perancis yang dikonversi oleh Nazi Jerman mulai 3 Juli 1943 menjadi kamp transit untuk mendeportasi Yahudi beberapa ke kamp konsentrasi di Perancis dan Jerman.

Karena dalam kamp tersebut terdapat pula tawanan Yahudi Turki, Yolga dengan berani mengevakuasi satu per satu Yahudi Turki dari kamp Drancy yang kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Dari semua Yahudi Turki yang ada di kamp tersebut, hanya satu orang yang tidak sempat dievakuasi Yolga karena ia lebih dulu dideportasi ke kamp konsentrasi di Jerman.

Dalam sebuah biografinya, Yolga menceritakan:

"Setiap kali kami mendengar ada Yahudi Turki ditangkap dan dikirim ke Drancy, kedutaan Turki mengirimkan ultimatum kepada kedutaan Jerman di Paris dan meminta mereka untuk melepaskan warganya yang ditahan tersebut, khususnya ketika kami menyinggung bahwa kebijakan di Turki tidak pernah mengenal diskriminasi ras atau agama melainkan mereka punya hak yang sama sebagai warga negara Turki.

Oleh karenanya sekalipun mereka Yahudi, tetapi mereka tetap warga negara Turki dan Jerman tidak berhak menahan mereka sebagaimana status Turki dalam status negara netral selama Perang Dunia II. Saya kemudian langsung menuju kamp Drancy untuk menjemput mereka kemudian dipindahkan ke tempat yang aman.

Sepanjang yang saya ketahui, hanya satu Yahudi Turki yang berasal dari Bordeaux yang terlambat telah dikirim ke kamp konsentrasi di Jerman, di mana kedutaan Turki tidak punya jangkauan di sana saat itu"
.

Pasca Perang Dunia II, Namik Kemal Yolga ditugaskan sebagai Duta Besar Turki untuk Italia, Perancis, Venezuela, Iran dan Rusia, terakhir ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Kementerian Luar Negeri Turki.

Pada tahun 1998, Yolga menerima penghargaan 500. Yil Vakfi dari Quincentennial Foundation, sebuah LSM yang didirikan oleh 113 Yahudi dan Muslim Turki berbasis di Istanbul, LSM ini pun mendirikan Jewish Museum of Turkey (Zulfaris Synagogue). Bersama-sama Selahattin Ulkumen dan Necdet Kent, Yolga mendapat Turkey’s Supreme Service Medal dari Pemerintah Turki.

Namik Kemal Yolga (1914-2001)



ARTIKEL TERKAIT:

SAIDE ARIFOVA - Muslimah Crimea Penyelamat Yahudi Crimea

Arif Arifova Saida-Sayyid (Arifova Said Arifovna) atau yang lebih dikenal Saide Arifova (kelahiran 1916), adalah seorang muslimah etnis Turki Crimea yang berasal dari Bakhchisaray, daerah otonomi Crimea di Ukraina.

Dmitry Dozorec dalam artikelnya, Vseh nuzhnyee i dorozhe v etom mire dobrota (Segalanya akan menjadi lebih bernilai dan berharga di dunia kebaikan), menyebutkan bahwasannya saat Jerman menduduki wilayah Crimea sekitar tahun 1942-1943, Saide Arifova bekerja sebagai guru taman anak-anak Bakhchisaray dan saat menyadari sebagian dari anak didiknya adalah Yahudi, maka ia pun berusaha keras bagaimana menyelamatkan nyawa mereka dari genggaman Nazi Jerman.

Saide kemudian menyaring anak-anak asuhnya yang Yahudi dan menyembunyikan dokumen-dokumen mereka dan memalsukan identitas mereka dengan memberikan kesaksian palsu bahwa mereka bukanlah Yahudi.

Beberapa di antaranya sempat disembunyikan di beberapa tempat untuk menghindari deportasi ke panti asuhan holocaust di Kerch, Ukraina yang saat itu digunakan Jerman untuk eksperimen medik dan senjata kimia Nazi yang kontroversial.

Suasana sekolah dengan siswa-siswa Yahudi di pedesaan Crimea tahun 1934

Kerch, sebuah kota di semenanjung laut, Crimea Timur, saat itu merupakan medan pertempuran sengit antara Jerman dan Rusia antara tahun 1941-1945. Jerman menguasai Kerch pada Nopember 1941 dan tak lama kemudian Rusia kembali merebut Kerch pada 30 Desember 1941. Jerman membalasnya dan kembali ke tangannya pada tahun 1942. 31 Oktober 1942 angkatan laut Rusia mendarat di sekitar Kerch dan baru pada 11 April 1944, Kerch akhirnya dapat dibebaskan dari Jerman.

Selama pertempuran-pertempuran tersebut, Rusia harus kehilangan 160.000 prajuritnya sebagian darinya menjadi tahanan perang Jerman. Sedangkan selama dalam pendudukan Jerman, sekitar 15.000 penduduk Kerch dibunuh oleh Jerman, beberapa di antara mati terbunuh dalam aksi perlawanan lokal masyarakat Crimea melawan Nazi, dan sekitar 14.000 lainnya dideportasi ke kamp holocaust.

Aksi kejahatan perang Jerman di Kerch masuk dalam agenda pengadilan perang Nuremberg. Setelah Perang Dunia II berakhir, Rusia menyematkan penghargaan pada kota Kerch sebagai Kota Pahlawan.

Pembantaian masyarakat Crimea oleh tentara Nazi di Kerch tahun 1942

Usaha penyelamatan Arifova tidak berjalan mudah, ia harus menjalani siksaan dalam interogasi Gestapo, namun ia tetap merahasiakan anak-anak Yahudi tersebut dan terus melanjutkan usaha penyelamatannya dengan berbagai cara.

"Apakah hal ini mengerikan bagi saya? Tidak, bagi saya sudah tidak lagi merasakan takut atau ngeri. Tulang-tulang saya sudah tanggung telah patah setiap kali bertemu Gestapo, dan setiap kali itu juga saya selalu mendapat cap 'tidak layak' pada passport saya yang menandakan saya terlarang untuk meninggalkan Bakhchisaray" demikian penuturan Saide Arifova kepada Dmitry Dozorec.

Dari tangannyalah sekitar 88 Yahudi Crimea (Krymchaks) yang di antaranya tercatat keluarga-keluarga seperti Kapustinskih, Schwartzman, Salievyh, Havaevyh, Nemetovyh, Zeygenmurthay, beserta 70 anak asuhnya bisa terselamatkan dari kamp holocaust dan laboratorium Kerch.

Fikret K. Yurter, Presiden National Center of Crimean Tatar, New York, dalam artikelnya, Justice for All, mengungkapkan bahwa selama pendudukan Nazi Jerman, lebih dari 115 desa Crimea hancur rata dengan tanah, sekitar 15.000 penduduknya digiring ke kamp buruh dan konsentrasi di Jerman dan Austria dan kebanyakan dari mereka hilang hingga kini.

Penderitaan Crimea terus berlanjut di masa pendudukan Rusia, sejak deportasi masal mereka ke beberapa kamp kerja paksa di Rusia mulai 18 Mei 1944, hampir 46% populasi dari Crimea Tatar hilang. Harta dan rumah mereka banmyak yang diambil alih oleh pendatang Ukraina dan Rusia.

Sayangnya sekalipun terlepas dari cengkraman Nazi, pasca Perang Dunia II masyarakat Crimea justru menghadapi bahaya yang lebih besar lagi dari Nazi. Sebuah jurnal yang ditulis oleh Prof. Aurelie Campana, dari Departement de Science Politique, Universite Laval, Kanada, yang bertajuk Case Study: Surgun: The Crimean Tatar’s Depotation and Exile, edisi 16 Juni 2008, mengungkapkan bahwa saat Rusia memenangkan pertarungannya melawan Jerman di Crimea pasca Perang Dunia II, Lavrentiy Pavlovich Beria (Lavrentiy Beria), kepala NKVD, mengirim telegram langsung kepada Stalin tanggal 10 Mei 1944 yang memberitakan kecurigaan NKVD terhadap persekongkolan masal masyarakat Crimea dengan Nazi dan mengusulkan untuk mendeportasi mereka ke kamp kematian kerja paksa. Sehari setelahnya, Stalin melegalisasi deportasi masal masyarakat Crimea yang kemudian dikenal sebagai Sürgün, dan sejak saat itu dimulailah sejarah paling kelam masyarakat Crimea.

Saide Arifova termasuk dalam rombongan lebih dari 151.000 Crimea yang dideportasi ke kamp Uzbekistan yang merupakan tempat penampungan terbesar, sedangkan beberapa Crimea lainnya ada pula yang dikirim ke kamp Kazakhstan, Tajikistan, Otonomi Mari, dan lain-lain. Kamp ini layaknya seperti gabungan penjara kriminal dan tapol dengan kamp kerja paksa hingga para penghuninya terkadang disebut sebagai buruh Katorga.

Total keseluruhan Crimea yang dideportasi berjumlah sekitar 238.500 orang, dan dari jumlah tersebut sebanyak 109.956 orang mati selama proses deportasi periode 1 Juli 1944 hingga 1 Januari 1947. Tak sedikit pula dari mereka yang mati saat di perjalanan yang jauh diangkut dengan kereta api dalam kondisi yang sangat minim, cuaca dingin, penuh sesak dan kekurangan makanan. Sesampainya di tempat tujuan, mereka di tempatkan dalam kamp kerja paksa yang dikelola oleh GULAG.

NKVD (Narodnyy Komissariat Vnutrennikh Del) adalah polisi rahasia Rusia di era Stalin yang dikenal sebagai yang paling bertanggung jawab dalam operasi pembunuhan lawan politik Stalin dan pembunuhan masal.

NKVD kemudian dikembangkan lagi menjadi beberapa unit yang paling dikenal di antaranya adalah GULAG (Glavnoye Upravleniye Ispravitel'no-Trudovykh Lagerey i koloniy), unit yang bertanggung jawab mengelola semua kamp kematian kerja paksa ala Rusia, dan GUGB (Glavnoe Upravlenie Gosudarstvennoi Bezopasnosti), unit keamanan negara, yang kelak menjadi cikal bakal dari dinas intelejen KGB (Komityet Gosudarstvennoy Bezopasnosty).

Baru setelah Rusia di bawah kepemimpinan Nikita Khrushchev pasca kematian Stalin tahun 1953, masyarakat Crimea Tatar yang dideportasi secara bertahap mulai direhabilitasi kembali dan pada era Perestroika sebagian besar dari mereka diperbolehkan pulang ke Crimea, termasuk di antaranya adalah Saide Arifova.

Asumsi yang paling memungkinkan untuk mengetahui latar belakang pendeportasian ini adalah merujuk pada pendapat sejarawan Rusia, Alexander Nekrich, bahwa semuanya berawal dari kesalahan fatal kelompok komunis Crimea yang menyandarkan pada sebuah sumber informasi yang bias yang satu sisi meyakini adanya kecurigaan keterlibatan militan Crimea dengan Nazi Jerman dalam pembentukan tentara boneka Jerman (Crimea Tatar Legion).

Kecurigaan pembentukan militan Crimea menjadi tentara boneka Nazi ini diperkuat dengan kesaksian Willy Tiedemann, seorang tentara Nazi dari pasukan Panzergrenadier yang menyebutkan pembentukan ini datang dari militan Crimea itu sendiri yang sudah bertahun-tahun menginginkan kemerdekaan dari cengkraman Rusia. Militan Crimea tersebut dilatih Nazi menjadi satuan Hilfspolizei (HIPO) yang saat itu sudah terbentuk dengan kekuatan 10 Batalion 14 Kompi. Lebih lanjut tentang kesaksian ini dapat disimak di artikel Memoirs of a Panzergrenadier Veteran.

Laporan inilah yang kemudian menjadi sandaran NKVD untuk mendeportasi mereka. Sehingga dapat dikatakan kebijakan deportasi didasarkan atas sebuah hukuman atas kecurigaan desersi dan pembelotan masyarakat Crimea terhadap Rusia, bukan didasarkan atas pembersihan etnis Crimea.

Asumsi lain muncul dari Greta Uelhing dan A.W. Fisher yang mengaitkannya dengan kebijakan hubungan luar negeri Rusia yang saat itu diwakili oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Viatcheslav Mikhailovitch Molotov, yang menyatakan bahwa perjanjian netralitas anti agresi antara Rusia dan Turki yang dibuat tahun 1925 sudah tidak berlaku lagi. Sejak itu Stalin mengambil kebijakan pendeportasian Crimea yang mayoritas keturunan Turki Tatar sebagai langkah pengamanan dari kemungkinan pembelotan dan pemberontakan terhadap Rusia.

Atas usulan dan usaha publikasi Dmitry Dozorec sebagai presiden Molodezhnogo tsentra izucheniya istorii Holokosta (Youth Center for Holocaust Studies), Moskow, Saide Arifova masuk ke dalam jajaran sosok muslim yang menjadi pahlawan penyelamat Yahudi dari holocaust, sehingga namanya diabadikan dalam rangkaian Righteous Among the Nations di Yad Vashem, Israel.

Lambert M. Surhone, Mariam T. Tennoe, dan Susan F. Henssonow, menerbitkan sebuah buku yang berjudul "Saide Arifova, Righteous Among the Nations, Sürgün, Perestroika" yang mengulas tentang perjalanan hidup dan perjuangan seorang Saide Arifova.




ARTIKEL TERKAIT:

SELAHATTIN ULKUMEN - Muslim Penyelamat Yahudi Pulau Rhodes

Stanford J. Shaw dalam bukunya Turkey and the Holocaust, menceritakan bahwa Selahattin Ulkumen (1914-2003) adalah seorang diplomat dan kunsul Turki di Rhodes, sebuah pulau di laut Aegean milik Yunani 18 km dari selatan Turki.

Selama 390 tahun di bawah kekuasaan kekaisaran Turki, kehidupan komunitas Yahudi maju pesat di Rhodes. Hingga akhirnya pulau ini jatuh ke tangan Italia pada tahun 1943 dan kemudian diambil alih oleh Jerman setelah keruntuhan diktator Benito Mussolini di Italia, otomatis koloni Yahudi di pulau ini menjadi terancam oleh kebijakan Anti-Semit Jerman.

Pada 19 Juli 1944, pada awalnya terdengar Gestapo memerintahkan semua koloni Yahudi Rhodes untuk melapor ke kantor pusat Nazi dalam rangka sensus ulang dan dimasukkan dalam daftar pemindahan sementara ke Corfu sebuah pulau kecil barat Yunani.

Dokumentasi salah satu keluarga Yahudi keturunan Turki di pulau Rhodes

Namun setelah Ulkumen mengetahui tujuan sebenarnya yaitu rencana Jerman untuk mendeportasi mereka ke kamp Auschwitz, ia pun mengambil langkah diplomasi menemui Jend. Kleeman untuk meminta Jerman melepaskan dan tidak melibatkan lagi Yahudi warga dan keturunan Turki beserta kerabat-kerabatnya yang pada kenyataannya banyak pula yang berstatus sebagai warga Yunani dan Italia.

Ulkumen menegaskan kepada Jend. Kleeman bahwa Turki dalam status sebagai negara netral, dan menjelaskan pula bahwa Turki mempunyai kebijakan semua warganya mempunyai hak hidup yang sama antara Muslim, Kristiani maupun Yahudi yang hidup di sana. Namun Jend. Kleeman membatahnya dengan dalil dalam hukum perundangan Nazi (Nuremberg Laws 1935) bahwa setiap Yahudi tetap saja Yahudi bagaimanapun statusnya.

Perjuangan diplomasi Ulkumen akhirnya menemui keberhasilan setelah ia mengingatkan bila Yahudi Turki tidak dilepaskan maka akan berakibat insiden internasional. Jend. Kleeman akhirnya menyetujui tuntutan Ulkumen walaupun hanya terbatas membebaskan Yahudi Turki saja. Seiring dengan persetujuan tersebut, sekitar 1.673 Yahudi Yunani di Rhodes dideportasi ke Yunani yang kemudian dari sana mereka dikirim ke kamp holocaust, hanya tersisa 151 orang saja yang selamat dari rombongan tersebut.

Tak lama kemudian Turki memutuskan untuk bergabung dengan sekutu dan menyatakan perang dengan kekuatan Axis. Jerman kemudian meresponnya dengan mengirim pesawat bomber untuk memborbadir konsulat Turki di Rhodes, akibatnya Mihrinisa Hanim, istri Ulkumen yang tengah hamil, tewas bersama dengan dua staf konsulatnya. Ulkumen kemudian dideportasi ke Piraeus, kota pelabuhan 9 km dari ibukota Athena Yunani, dan ia terus dikurung di sana hingga akhir Perang Dunia II.

Yahudi Turki yang masih tersisa di Rhodes saat itu tidak dideportasi ke kamp holocaust seperti rencana semula Jerman karena saat itu Jerman tengah menghadapi kekalahan telak dari Sekutu, walaupun begitu mereka tetap mendapat perlakuan kasar dari tentara Jerman yang masih ada di sana dalam jangka waktu yang lama.

Akhirnya di awal Januari 1945, nasib menyedihkan Yahudi Rhodes mulai berakhir setelah Palang Merah Internasional mendatangi Rhodes. Untuk menghindari investigasi tim Palang Merah tersebut akan kemungkinan dakwaan kejahatan perang oleh Jerman di Rhodes, penguasa Jerman yang waktu itu masih bercokol di sana segera memerintahkan semua Yahudi Rhodes untuk meninggalkan Rhodes agar mereka tidak sempat memberikan kesaksian yang akan memberatkan Jerman kepada Tim Palang Merah Internasiona

Para Yahudi Rhodes kemudian menyebrangi laut menuju Marmaris, kota pelabuhan di propinsi Mugla, selatan barat Turki. Hal ini seperti mengulang sejarah pengusiran Yahudi Sephardi tahun 1492 yang bereksodus dari Spanyol menggunakan jalur laut Mediterrania menuju kekaisaran Ottoman yang saat itu mau menerima mereka.

Berdasarkan penyelidikan Naim Guleryuz, seorang sejarawan yang juga Wakil Presiden Quincentennial Foundation, Ulkumen telah menyelamatkan sedikitnya 200 Yahudi dari total koloni Yahudi Rhodes sekitar 2.000 orang, khususnya 42 keluarga Yahudi Turki.

Selahattin Ulkumen diundang menghadiri penanaman pohon di Yad Vashem yang mengabadikan pohon tersebut dengan namanya.

Oleh karenanya, pada tanggal 13 Desember 1989 Ulkumen resmi diabadikan di Yad Vashem berikut menisbatkan sebuah pohon dengan namanya di jalur menuju sebuah lokasi di Yad Vashem. Tak lama setelah itu, Ulkumen meninggal pada 7 Juli 2003 di Istanbul Turki dalam usia 89 tahun.

Selahattin Ulkumen di masa tuanya bersama cucu


Piagam penghargaan untuk Selahattin Ulkumen



ARTIKEL TERKAIT: